Reactive Attachment Disorder

 Halo, Readers!

Apakah ada di antara kalian yang familiar dengan istilah Reactive Attachment Disorder? Reactive Attachment Disorder  (RAD) merupakan suatu gangguan interaksi dan hubungan sosial yang terjadi pada anak-anak yang disebabkan karena pengasuhan yang tidak memadai, seperti penelantaran kebutuhan fisik dan emosional dasar anak atau sering berganti pengasuh, sehingga menghilangkan ikatan adekuat antara anak dengan pengasuhnya. Anak-anak dengan gangguan ini akan mengalami kesulitan membentuk ikatan emosional dengan orang lain, seperti tidak merasa aman atau bahkan justru merasa cemas saat berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak juga mengalami kesulitan untuk mengembangkan emosi positif sehingga ia terus terlihat murung tanpa adanya alasan yang jelas. Mereka cenderung menunjukkan reaksi tidak suka ketika dipegang, dipeluk, atau dihibur. Untuk dapat didiagnosa sebagai Reactive Attachment Disorder, maka gejalanya harus ada sebelum anak berusia 5 tahun.


Gejala dari Reactive Attachment Disorder 

  1. Tidak menanggapi orang lain dengan berbagai variasi emosi yang diharapkan,

  2. Tidak mengungkapkan emosi hati nurani, seperti penyesalan atau rasa bersalah,

  3. Tidak melakukan kontak mata,

  4. Menghindari kontak fisik, terutama dengan pengasuhnya,

  5. Mengamuk atau menjadi lebih mudah tersinggung, tidak patuh, atau cenderung lebih suka berdebat dibandingkan anak-anak seusianya,

  6. Menjadi murung atau sedih tanpa adanya alasan yang jelas.


Ketika anak-anak mulai tumbuh dewasa, Reactive Attachment Disorder mereka cenderung terbagi menjadi dua pola, yakni Inhibited (Inhibisi) dan disinhibited (Disinhibisi)

  • Reactive Attachment Disorder dengan subtipe inhibisi didefinisikan sebagai kegagalan terus menerus dalam menjalin dan merespon sebagian besar interaksi sosial. Gejala umum Reactive Attachment Disorder tipe inhibisi meliputi ketidaktanggapan atau penolakan terhadap kenyamanan yang diberikan oleh orang lain, inhibisi berlebihan (menahan emosi), dan kegagalan untuk mencari kasih sayang dari pengasuh atau orang lain.

  • Gejala umum Reactive Attachment Disorder subtipe disinhibisi antara lain bersikap ramah kepada semua orang tanpa pandang bulu, tidak dapat bersikap selektif dalam memilih figure kelekatan, kecenderungan untuk bertindak lebih muda dari usianya, dan mencari kasih sayang melalui cara-cara yang dapat berpotensi berbahaya.


Penyebab dari Reactive Attachment Disorder

  • Pengabaian terus menerus terhadap kebutuhan emosional anak akan kenyamanan, stimulasi, dan kasih sayang,

  • Pengabaian secara terus menerus terhadap kebutuhan fisik dasar anak,

  • Perubahan berulang daru pengasuh utama yang menghambat mereka membentuk keterikatan yang stabil

Terdapat juga beberapa  faktor risiko lain untuk Reactive Attachment Disorder termasuk situasi rumah dan  orang tua, yaitu:

  • Tinggal di panti asuhan atau lembaga lain,

  • Orang tua memiliki kondisi kesehatan mental yang serius atau menyalahgunakan narkoba atau alkohol,

  • Orang tua melakukan tindak kriminal hingga harus dipenjara dan terpisah dari anak,

  • Orang tua atau pengasuh dirawat di rumah sakit dan dipisahkan dari anak untuk waktu yang lama.


Langkah pertama yang dapat dilakukan untuk merawat anak dengan Reactive Attachment Disorder adalah memastikan bahwa anak ditempatkan di lingkungan yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian. Terapi tidak akan efektif apabila anak tetap dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan pola pengasuhan yang tidak konsisten. Dalam pelaksanaan terapi, biasanya orang tua atau pengasuh utama anak ikut dilibatkan. Pengasuh dididik tentang Reactive Attachment Disorder dan dibekali informasi tentang bagaimana membangun kepercayaan dan ikatan yang sehat. 

Tanpa adanya penanganan yang serius, anak dengan Reactive Attachment Disorder bisa mengalami masalah sosial, emosional, dan perilaku yang berkelanjutan. Hal ini tentunya dapat menempatkan anak pada risiko masalah yang lebih besar saat mereka tumbuh dewasa nantinya.


Written by Endah Dwi Febriyanti


Sumber Referensi:

Novitasari, Hesty dan Sasanti Juniar. Reactive Attachment Disorder (Gangguan Kelekatan Reaktif). 

Morin, Amy. (2020, 23 Desember). What is Reactive Attachment Disorder?. https://www.verywellmind.com/what-is-reactive-attachment-disorder-4136080

Bhargava, Hansa. (2020, 14 September). Reative Attachment Disorder. https://www.webmd.com/mental-health/mental-health-reactive-attachment-disorder


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaslighting

Stigma tentang Perempuan dan Kemandirian

Jadi Bintang di LinkedIn! Strategi Optimalisasi – Bagian 1