Stigma tentang Perempuan dan Kemandirian
Perempuan dan kemandirian layaknya dua hal yang tidak lazim jika dihimpunkan pada satu adegan. Pada pandangan awam, perempuan adalah mereka yang berambut panjang, anggun menawan, dan lihal dalam menghapal rumus-rumus kelezatan makanan. Katanya, perempuan tidak akan jauh-jauh dari kata "Lemah dan penuh dengan kebergantungan". Lalu, sudahkah anggapan-anggapan itu benar; selaras dengan ketetapan Tuhan?
Padahal tidak ada pada satu pun manusia bentuk kesempurnaan mengenai 'kuat'. Pada tiap-tiap manusia, lemah dan kurang selalu saja menjadi perkara yang melekat sepanjang hayat. Pun dengan porsi mandiri yang sedang ingin saya singgung, di mana ia berdiri tidak didasarkan pada jenis kelamin dan gender mana yang selama ini digadang-gadang lebih agung, melainkan pada mereka yang bersedia untuk tidak mematung; menerima kodrat-kodrat yang ditetapkan oleh masyarakat pada umumnya tanpa mau bertarung. Kemandirian adalah milik mereka yang memahami konsep bahwa manusia tidak memiliki manusia lain, yang ia punya hanyalah diri sendiri dan Tuhan. Kemandirian adalah milik mereka yang mau bergerak memaknai dirinya dan eksistensinya dengan tidak hanya bergantung pada lain tangan. Sedang perempuan dan laki-laki sama haknya untuk mewujudkan kebermaknaan dirinya melalui berbagai bentuk kemandirian.
Sama halnya dengan laki-laki, maka seharusnya wanita boleh untuk memilih jalannya sendiri. Lanjut ke jenjang perguruan tinggi atau bekerja, menikah di umur muda atau lebih dewasa, bekarir atau menjadi ibu rumah tangga, dan persoalan-persoalan lain yang seharusnya perempuan memiliki hak untuk menentukan jawaban sesuai dengan nilai-nilai yang telah ia yakini dalam hidupnya.
Tidak ada yang perlu ditakuti dari menjadi seorang yang mandiri, kecuali mandiri dari keterlibatan Tuhan. Takut-takut yang membayangi tersebut hanyalah ditujukan pada mereka yang tidak mau maju dan berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih gemilang. Mereka terlalu takut untuk maju tapi terlalu takut untuk tertinggal. Maka takut mereka tidaklah pantas menjadi penghalang perempuan untuk melambung tinggi meraih mimpi. Sebab perempuan tidak dilahirkan untuk sekadar menjadi pereda badai-badai gentar dalam jiwa lain. Perempuan adalah individu yang terlahir merdeka, mereka bertanggung jawab atas diri dan perbuatannya sendiri, bukan pada apa yang ditakuti oleh manusia yang seisi hidupnya hanya dipenuhi dengan ragu serta main-main.
Komentar
Posting Komentar