Burnout Brings Us Down

Halo, Readers!

Di masa pandemi seperti sekarang ini, di mana sebagian besar aktivitas hanya bisa dilakukan di rumah dan di balik layar, membuat kita tidak memiliki banyak kesempatan untuk menghirup udara segar dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Serba-serbi keterbatasan inilah yang akhirnya membuat banyak orang yang akhirnya mengalami burnout berkepanjangan ketika sedang berusaha  menyelesaikan tugas atau pekerjaannya dan berakibat pada penurunan kinerja.

Burnout adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami kelelahan secara fisik, emosional, dan mental yang disebabkan oleh stres yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Burnout biasanya dikaitkan dengan masalah seputar tugas atau pekerjaan yang akhirnya dapat membuat seseorang menjadi merasa lelah, kosong, dan tidak mampu mengatasi tuntutan dalam kehidupan sehari-hari. Efek negatif dari burnout sendiri dapat memengaruhi aktivitas kita dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk di rumah, pekerjaan, sampai kehidupan sosial. 


Tanda-Tanda Kamu Mengalami Burnout

  1. Merasa lelah sepanjang waktu

  2. Imunitas tubuh menurun dan menjadi sering sakit

  3. Sering sakit kepala atau nyeri otot

  4. Perubahan nafsu makan atau kebiasaan tidur

  5. Adanya perasaan gagal dan meragukan diri sendiri

  6. Merasa sendirian

  7. Kehilangan motivasi, cita-cita, dan harapan

  8. Menurunnya rasa kepuasan dan rasa pencapaian

  9. Menarik diri dari tanggung jawab

  10. Mengisolasi diri dari orang lain

  11. Menunda-nunda untuk menyelesaikan sesuatu

  12. Melampiaskan kekesalan pada orang lain


Perbedaan Stres dengan Burnout

Stres

Burnout

Emosi menjadi sangat reaktif

Emosi menjadi kurang sensitif, seolah mati rasa

Kehilangan energi

Kehilangan motivasi, cita-cita, dan harapan

Jadi terburu-buru dan hiperaktif

Merasa tidak berdaya dan putus asa

Menyebabkan kerusakan utama pada aspek fisik

Menyebabkan kerusakan utama pada aspek emosional


Lalu, apakah burnout sama dengan depresi? Tentu tidak. Meskipun ada gejala tertentu yang dianggap khas untuk burnout yang juga terjadi pada depresi, yang meliputi kelelahan ekstrim, merasa sedih, dan kinerja berkurang, tetapi dua hal ini tetaplah berbeda.

Karakter spesifik dari burnout sendiri adalah kelelahan yang sebagian besar disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Sedangkan, pada depresi sendiri, perasaaan dan pikiran negatif tidak hanya tentang pekerjaan, tetapi semua bidang kehidupan. Terdapat juga gejala khas depresi yang tidak dianggap sebagai gejala khas dari burnout, yang meliputi tingkat percaya diri yang rendah, keputusasaan, dan kecenderungan bunuh diri yang membuat depresi dan burnout menjadi semakin terlihat berbeda.


Penyebab Burnout

Burnout sering kali disebabkan oleh pekerjaan atau tugas yang menumpuk dan kurangnya apresiasi atas hasil kerja yang sudah diusahakan. Akan tetapi, ada juga faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap burnout, misalnya  gaya hidup dan kepribadian. 

Banyaknya pekerjaan yang menyita waktu sampai-sampai tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi, kurangnya hubungan atau interaksi dengan orang-orang terdekat, dan kurangnya waktu untuk tidur juga bisa menjadi penyebab lain dari burnout

Beberapa kepribadian yang rentan mengalami burnout adalah seseorang dengan kecenderungan perfeksionis, memiliki pandangan pesimis terhadap sendiri dan dunia, berprestasi tinggi, dan memiliki kecenderungan untuk terus memegang kendali tanpa ada keinginan untuk mendelegasikan pekerjaannya kepada orang lain. 


Mengatasi Burnout

Kita bisa mengatasi burnout dengan pendekatan 3R, yaitu:

  1. Recognize. Kenali tanda atau gejala dari burnout,

  2.  Reverse. Coba atasi tanda dan gejala tersebut dengan mencari dukungan dari orang lain dan melatih manajemen stres,

  3. Resilience. Membangun resiliensi diri dengan menjaga kesehatan fisik serta emosional.

Ada juga beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi burnout, antara lain:

  1. Membangun hubungan baik dengan orang-orang sekitar. Melakukan kontak sosial dengan orang lain, berbagi cerita mengenai permasalahan yang sedang dihadapi, serta membangun relasi baru dengan orang—orang yang mungkin memiliki kesamaaan minat dengan kita bisa membantu mengatasi burnout yang sedang dialami. Selain itu, batasi juga kontak dengan orang-orang yang sekiranya hanya membawa dampak negatif bagi kehidupan kita.

  2. Membingkai ulang cara kita memandang tugas atau pekerjaan. Kita bisa mulai mencoba untuk menemukan nilai-nilai dari tugas atau pekerjaan yang sedang kita jalani sehingga saat melakukannya kita bisa lebih tenang dan fokus, tanpa harus merasa terbebani secara berlebihan.

  3. Evaluasi lagi skala prioritas yang selama ini dimiliki. Kita juga perlu menetapkan batasan, kapan waktu yang tepat untuk berkata “Ya” dan “Tidak”. Istirahat dan liburan juga menjadi bagian penting dalam proses mengatasi burnout karena dapat meningkatkan mood. Dengan mengevaluasi kembali skala prioritas, kita dapat menemukan lagi hal-hal yang membuat kita bahagia sebaaimana sedia kala.

  4. Jadikan olahraga sebagai prioritas. Olahraga menjadi penangkal ampuh dari stres dan burnout karena bisa meningkatkan mood dan energi, mempertajam fokus, serta merilekskan pikiran maupun tubuh..

  5. Perhatikan lagi makanan dan nutrisi yang kita konsumsi. Kita bisa mengurangi asupan gula dan karbohidrat olahan yang dapat menyebabkan ganguan mood serta energi. Kurangi juga konsumsi makanan yang dapat memengaruhi suasana hati seperti kafein dan makanan dengan pengawet kimia. Akan lebih baik lagi kalau kita banyak mengonsumsi lemak Omega-3 (seperti yang terdapat pada kacang kedelai, kacang kenari, daging ikan salmon dan ikan tuna) untuk meningkatkan mood. Hindari juga nikotin yang biasanya ada pada rokok karena bisa memengaruhi tingkat kecemasan. 


Burnout dapat berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga bisa menganggu kinerja otak serta kesehatan mental kita. Untuk itu, apabila kita mengalami gejala dari burnout, ada baiknya kita segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasinya. Akan tetapi, kalau kita merasa kesulitan untuk mengatasi burnout sendirian, sebaiknya kita mengonsultasikannya dengan tenaga ahli ya, Readers.


Written by Endah Dwi Febriyanti


Sumber Referensi:

Smith, Melinda., Segal, Jeanne., Robinson, Lawrence. (2020, October). Burnout Prevention and Treatment. https://www.helpguide.org/articles/stres/burnout-prevention-and-recovery.htm

Scott, Elizabeth. (2020, March 20). Burnout Symptoms and Treatment. https://www.verywellmind.com/stres-and-burnout-symptoms-and-causes-3144516

NCBI. (2020, June 18). Depression: What is Burnout?. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279286/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gaslighting

Stigma tentang Perempuan dan Kemandirian

Jadi Bintang di LinkedIn! Strategi Optimalisasi – Bagian 1